SEJARAH PARTUANAN BAJA LINGGEI KERAJAAN PANEI DINASTI PURBA DASUHA


Dokumen Raja Panei

Benarkah ini Raja Panei.?

Oleh : Juandaha Raya Purba Dasuha

 Silsilah Keturuanan Raja Panei, Tuan Bajalinggei dan Guru Raya ini disusun pada tahun 2005 di rumah Tuan Kamen Purba Sidasuha, hadir pada waktu itu dari pihak keturunan Raja Panei, Tuan Kamen Purba Sidasuha (putera langsung raja Panei Tuan Bosar Sumalam Purba Sidasuha), dari Bajalinggei hadir Tuan Sadarita Purba Sidasuha, Tuan Haji Dahasep Purba Sidasuha gelar Tuan Sibual, Tuan Bajalinggei Purba Sidasuha anak dari Tuan Djontahari Purba Sidasuha dan saya sendiri Pdt. Juandaha Raya Purba Sidasuha (keturunan langsung Guru Raya). Tulisan tangan di sebelah kanan adalah untuk mencocokkan silsilah ini dengan abang kami Raja Dolog Silou marga Purba Tambak (Lombang).

 A. PENDAHULUAN

Daerah Kecamatan Sipispis sekarang ini sebelum masuk ke Deli pada zaman Belanda adalah bernama Partuanan Baja Linggei. Adapun daerah Baja Linggei sebelum masuknya penjajah Belanda ke Sumatera Timur (sekitar tahun 1865) merupakan daerah kekuasaan dari Kerajaan Panei di Kecamatan Panei Kabupaten Simalungun sekarang. Sebelum dimasukkan oleh Belanda daerah Baja Linggei (termasuk Kecamatan Dolok Merawan/Sim.: “Dolog Marawan”) adalah bertuan ke Pamatang Panei ibukota Kerajaan Panei yang rajanya bermarga Purba Sidasuha atau Purba Dasuha. Dan penguasa di daerah Baja Linggei dan Dolok Merawan adalah saudara kandung dari raja Panei bermarga Purba Dasuha.

Untuk menulis sejarah kerajaan Panei dan Baja Linggei adalah cukup sulit dan berisiko karena rawan perdebatan dari pihak-pihak yang peduli dengan sejarah kebudayaan Simalungun sebagai komunitas etnik Simalungun di mana keturunan Raja Panei adalah termasuk penopang kebudayaan Simalungun mengingat Purba Dasuha adalah penduduk asli daerah Kabupaten Simalungun sekarang dan sebagian Kabupaten Serdang Bedagai. Penelusuran sejarah dipersulit lagi dengan langkanya referensi mengenai Purba Dasuha dengan daerah kekuasaanya Kerajaan Panei. Sumber-sumber tertulis kebanyakan dari negeri Belanda dan dalam bahasa Belanda sehingga sulit dimengerti yang tidak paham bahasa Belanda. Menurut orang-orang tua, leluhur raja-raja Panei dan keturunanya tempo doeloe dikabarkan sudah menulisnya dalam pustaha laklak (buku dari kulit kayu beraksara Simalungun), tetapi sudah habis musnah dirampok dan dibakar gerombolan pembunuh yang menjarah dan membakar istana raja Panei di Pamatang Panei, bahkan menganiaya/membunuh Tuan Bosar Sumalam Purba Dasuha pada tanggal 3 Maret 1946.

Oleh karena itu dalam tulisan yang sangat sederhana ini, penulis sebagai salah seorang keturunan keluarga besar Purba Dasuha semampu penulis mencoba dengan susah payah untuk mengumpulkan keterangan dari orang-orang tua Purba Dasuha dan dokumen-dokumen tertulis dari bekas istana Raja Panei dan Tuan Baja Linggei yang masih tersedia.

B. ASAL-USUL MARGA PURBA DASUHA

Raja Purba

Kebesaran dan Kemakmuran Raja Purba

Menurut sejarah Kerajaan Dolok Silau dari kitab Pustaha Bandar Hanopan di Kecamatan Silau Kahean Kabupaten Simalungun bahwa Purba Dasuha adalah marga yang muncul kemudian dari Kerajaan Silau di Simalungun sekitar tahun 1450. Menurut pustaka lama itu, adapun mulanya adalah dari ucapan “si” artinya “orang” dan “Da” artinya “sang”, serta “suha; dari kata “suha-suha” artinya “sisa-sisa minuman tuak/aren”. Jadi Sidasuha artinya: “orang yang dijuluki sebagai peminum suha-suha (sisa-sisa tuak). Munculnya julukan ini pertama kali di Silau Buttu (suatu kampung di Kecamatan Raya Kabupaten Simalungun sekarang). Kisahnya berawal dari pertengkaran dari dua orang putera raja Silau yang bersaudara kandung. Menurut kisah, Raja Silau bermarga Purba Tambak mempunyai dua orang putera, putera tertua seorang petualang yang pekerjaannya sehari-hari “mardagang” (mengembara) dan berjudi. Menurut adat kerajaan, putera tertua inilah yang kelak menggantikan ayahnya menjadi raja. Anak yang bungsu seorang petani yang baik, suka berladang dan pendiam. Pekerjaannya sehari-hari hanya mengurus tanamannya dan pekerjaan sambilannya sehabis berkebun adalah “maragad” (mengambil tuak dari pohon enau).

Pada suatu hari anak yang bungsu marah kepada abangnya, karena telah menghabiskan tuak hasil sadapannya. Dia protes kepada abangnya, tetapi abangnya tidak mempedulikannya, malah balik memukul adiknya. Karena emosi, abangnya mengatakan dalam bahasa Simalungun, “ai suha-suha ni bagod in do talup inumonmu, tandani ho silojaloja irumah bolon on!” (Artinya: “Memang “suha-suha bagod” (sisa tuak) itu sangat cocok untuk minumanmu, pantas buatmu selaku orang suruhan di istana ini”). Mendengar ucapan yang merendahkan itu, anak bungsu merasa terhina dan balik memukul abangnya, akhirnya mereka berkelahi dengan adu pencak (dihar), dan karena abangnya lebih kuat, adiknya pergi dari Silau Buttu menuju ke daerah Tigarunggu (Kecamatan Purba Kabupaten Simalungun sekarang). Tetapi abangnya mengejar dia terus bersama pasukan kerajaan berniat hendak membunuhnya. Maka terpaksalah adiknya berlindung ke tempat adik perempuannya (bou[1] Tambak) di Malasori yang disembunyikan di bawah “palakka pangulgasan” (tempat merendam benang tenunan), dan sang bou dengan tenang duduk di atasnya melanjutkan pekerjaannya bertenun.

Akhirnya tibalah rombongan abangnya di Malasori dan menanyakan perihal adiknya yang dibencinya itu. Oleh BouTambak ditunjukkan arah yang lain, sehingga selamatlah abangnya yang disembunyikan di bawah palakka itu sementara Bou duduk di atasnya menenun. Sebelum abangnya pergi, disumpahkannya kepada adiknya (Bou Tambak) bahwa ia sampai keturunanya akan mengingat jasa adiknya itu dan akan menyayangi “botou” (saudara perempuan) dan “boruni” (anak perempuan/pihak yang memperisteri adik perempuannya). Demikianlah menurut kisah sehingga keturunan Purba Sidasuha sangat sayang kepada “boru” atau “botou”-nya.

Dengan sahabat-sahabat setianya yang menyertai pelariannya itu—pustaha panei bolon milik ayahnya Raja Silau juga turut dibawa lari—ia pun sampailah di daerah sekitar Tigarunggu dan membangun perkampungan di sana. Dinamailah kampung itu “HUTA SUHA BOLAG” mengingat riwayat pelariannya itu, marganya pun ia robah, sehingga bukan lagi PURBA TAMBAK, tetapi berubah menjadi PURBA SIDASUHA atau PURBA DASUHA. Dengan pertolongan sahabat-sahabatnya, ia pun mengangkat dirinya menjadi yang dipertuan di tempat itu, karena daerah itu masih dalam wilayah kekuasaan ayahnya Raja Silau. Di kemudian hari, ayahnya Raja Silau berperang dengan saudaranya Raja Silau Bolag, karena terdesak Raja Silau melarikan diri ke tempat anaknya Tuan Suha Bolag meminta perlindungan, tetapi karena pasukan Raja Silau Bolag lebih kuat, pertahanan Raja Silau berhasil dihancurkan di Suha Bolag, dan Raja Silau pun tewas bersama panglima-panglimanya Pisang Buil, Sibayak Parbosi dan Raja Hanopa. Sehabis perang, abangnya (putera mahkota raja Silau) ditawan di Suha Bolag, tetapi dapat meloloskan dirinya dari tutupan, ia melarikan diri bersama pasukannya ke daerah Bangun Purba sekarang ini dan mendirikan kerajaan bernama KERAJAAN RUBUN yang daerah kekuasaanya berwatas dengan Bah Karei (Sungai Ular)—Rih Sigom dan Sibaganding. Keturunanya kelak mendirikan KERAJAAN DOLOG SILAU dengan memakai marga PURBA TAMBAK LOMBANG.[2]

Selepas perang saudara, Tuan Suha Bolag pergi ke Kerajaan Siantar dan kawin dengan tuan puteri raja Siantar (Bou Siattar) marga Damanik yang turun-temurun menjadi permaisuri di Kerajaan Panei. Dengan bantuan mertuanya Raja Siantar marga Damanik, Tuan Suha Bolag diangkat menjadi raja di daerah bekas kekuasaan Raja Onggou Sipoldas marga Saragih. Kisahnya, Raja Onggou Sipoldas selaku salah satu dari RAJA MAROPPAT (Siantar, Onggou Sipoldas, Tanoh Djawa dan Silau) tidak percaya dengan kesaktian pusaka Kerajaan Silau yakni PUSTAHA PANEI BOLON[3](kitab kuno dari kulit kayu yang tulisannya hanya dapat dibaca di tempat gelap di mana tulisan di kitab itu memancarkan sinar seperti seekor naga, sehingga dapat diramalkan nujuman mengenai hal-hal yang akan terjadi). Raja Onggou Sipoldas takabur dengan ucapannya sendiri, sehingga dalam pertaruhannya dengan Raja Siantar, ia kalah dan terpaksa memberikan kerajaannya kepada Tuan Suha Bolag, tetapi Tuan Suha Bolag tidak mau dinobatkan di tahta Raja Onggou Sipoldas, melainkan di atas Pustaha Panei Bolon, demikianlah menurut kisah, kerajaannya dinamakanKERAJAAN PANEI. Ibukotanya ditentukan di daerah PAMATANG PANEI (sekitar 8 kilometer dari Pematang Siantar). Daerah kekusaanya pada awalnya hanya kecil saja, tetapi dapat diperluasnya, sehingga berbatas di sebelah selatan mulai dari tepi pantai Tigaras sampai ke sebelah utara di pantai selat Malaka yaitu Indrapura sekarang ini; di sebelah barat dengan daerah Suha Bolag (Kecamatan Purba sekarang) sampai ke perbatasan dengan daerah Silampuyang (Kerajaan Siantar). Raja Panei kedua dinamakan Parhuda Sitajur atau Hantu Panei yang terkenal sakti mandraguna (ia dapat berperang dengan berkuda tanpa dapat dilihat musuh). Pada zamannya daerah Kerajaan Panei sangat disegani di Sumatera Timur, dan pengaruhnya sampai ke Asahan (Buttu Panei). Keturunanya banyak yang merantau ke daerah sekitarnya, ada yang sampai ke Sialtong Serdang dan diangkat menjadi yang dipertuan. Daerah itu sebelum berdiri kesultanan Serdang adalah daerah kekuasaan Kerajaan Silau di Simalungun yang daerahnya mencakup Bangun Purba sampai ke Lubuk Pakam.Silsilah Raja Purba Dasuha yang di Kenal Dengan Raja PANEI

Pada tahun 1515 keturunan raja Panei yang mengontrol daerah Purba yaitu Tuan Simalobong Purba Dasuha dikalahkan oleh seorang pengembara dari Tungtung Batu (Pakpak Dairi) dalam adu sumpah (marbija). Tuan Simalobong bersama pengiringnya meninggalkan istana Pamatang Purba pergi ke Purba Saribu dan sebagian ke Haranggaol (Kecamatan Haranggaol Horisan sekarang). Si pengembara yang bernama Raendan “marbulawan” dengan Tuan Simalobong dan mengakui Tuan Simalobong sebagai Raja Nagodang Purba. Ia juga memakai marga yang sama dengan Tuan Simalobong tetapi dengan mengingat asalnya dari Pakpak maka marganya disebutnya Purba Pakpak.

Sementara raja Panei sendiri selama enam generasi masih tetap tinggal di Pamatang Panei, tetapi pada generasi ketujuh terjadi pertikaian di Pamatang Panei yang mengakibatkan perginya salah seorang putera raja Panei bersama pengiringnya dan Puang Bolon (permaisuri raja) ke daerah kekuasaan Kerajaan Panei yaitu daerah Baja Linggei (Sipispis) sekarang kira-kira tahun 1550. Saudara tuan Baja Linggei yang lain ditugaskan oleh Raja Panei pindah ke Raya dan menjabat sebagai GURU RAYA bersamaan dengan dijemputnya tuan puteri Panei yang menjadi permaisuri (puang bolon) di Raya sekitar tahun 1600 (abad XVII).

Keturunan raja Panei yang lain yang adalah tuan Sinaman bermarga Purba Sidadolog dan adiknya Tuan Rajaihuta bermarga Purba Sidagambir. Dengan demikian keturunan langsung dari garis marga induk Purba Tambak adalah:Purba Tambak (Silau Buttu, Bawang, Tualang dan Lombang), Purba Sigumonrong (tuan Lokkung dan Marubun Lokkung di Kerajaan Dolok Silau), Purba Sidasuha (raja Panei, tuan Simalobong, tuan Baja Linggei dan Guru Raya),Purba Sidadolog (tuan Sinaman) dan Purba Sidagambir (tuan Rajaihuta dan Dolog Huluan) di Kecamatan Raya sekarang. Pada masa pemerintahan Raja Panei Tuan Djintama (sekitar tahun 1780) didudukkan marga Purba Girsang menjadi partuanan di Dolog Batu Nanggar (yang sebelumnya bernama Naga Litang). Tuan Dolog Batu Nanggar yang terakhir adalah Tuan Badja Purba Girsang yang kawin dengan boru Damanik puteri raja Siantar. Pusat pemerintahannya pada zaman Belanda adalah di Sinaksak. Sekarang Dolog Batu Nanggar telah dimekarkan menjadi dua yaitu: Kecamatan Dolog Batu Nanggar di Sinaksak dan Kecamatan Tapian Dolog di Purbasari, Kabupaten Simalungun.

C. ASAL USUL NAMA DARI KECAMATAN SIPISPIS

Pada mulanya semasa zaman partuanan Baja Linggei, Sipispis ini namanya adalah kampung HUTA TINOPPA dan ini dapat dibuktikan bahwa sungai yang masih ada di Sipispis namanya BAH TINOPPA.

Pada waktu itu pusat partuanan Baja Linggei masih di HUTA SIKAWAK (sekitar 2 kilometer dari Sipispis arah ke Tebing Tinggi).

Kira-kira 3 kilometer dari Sipispis arah ke Tebing Tinggi, pada waktu itu ada sebuah perkampungan (Masangan sekarang), bahwa setiap orang-orang yang akan datang ke TINOPPA (Sipispis) harus melewati pelimbahan rumah (bahasa Simalungun: “pispisan”). Jalan tersebut berada di “pispisan” rumah dari yang dituakan di kampung itu (Nagodang Huta).

Pada waktu itu seorang nakhoda yang bernama NAYAN sering datang ke Tinoppa untuk bermain-main mencari gadis, lantas apabila dia telah sampai di Tinoppa, dia ditanya orang: “Darimana tadi jalan?” Dan dijawabnya “Dari pispisan rumah Nagodang Huta.”

Dan akhirnya karena sudah seringnya disebut “pispisan” kata itupun dipendekkan menjadi Pispipis dan kemudian menjadi “Sipispis”. Jadi jelaslah bahwa Pispis adalah sebuah kampung lebih kurang 3 kilometer dari Sipispis arah ke Tebing Tinggi (Masangan sekarang).

Setelah berakhirnya Kerajaan Baja Linggei (sejak masuknya daerah ini ke Deli) terbentuklah onderdistrik-onderdistrik (kecamatan) maka pusat pemerintahannya di Pispis. Atas perintah Walikota Tebing Tinggi (Tuan Homente, orang Belanda) maka pusat pemerintahannya dipindahkan ke Tinoppa sertan nama Tinoppa diganti menjadi Sipispis. Demikianlah secara ringkas, peristiwa terjadinya Kecamatan Sipispis (Kabupaten Serdang Bedagai sekarang).

D. BAJA LINGGEI TERLEPAS DARI PANEI DAN MASUK KE KERAJAAN PADANG (SERDANG BEDAGAI) DENGAN INTERVENSI BELANDA DAN DELI

  1. Kedudukan Baja Linggei dalam Susunan Pemerintahan Kerajaan Panei

Seperti dijelaskan pada bagian pertama tadi, Baja Linggei sebelum masuk ke daerah kekuasan Kesultanan Deli (1902) adalah daerah kekuasaan Kerajaan Panei di Simalungun. Oleh karena itu, Baja Linggei sebenarnya bukanlah berstatus “harajaon” (kerajaan) tetapi hanyalah daerah bawahan (vazal) dari Kerajaan Panei yang berpusat di Pamatang Panei. Dan sesuai dengan asas monarki yang bersifat despotisme, maka daerah-daerah kekuasaan raja Panei terdiri dari daerah-daerah otonom yang mempunyai pemerintahan sendiri (duplicate governance) yang tunduk kepada pemerintahan pusat yaitu raja dengan kabinetnya (“harajaan”). Dan untuk daerah vazal ini, kepala-kepala pemerintahan daerah (partuanan dan parbapaan) diangkat putera-putera raja dan keturunannya atau keluarganya (anakboru harajaan). Demikianlah sehingga ada titel kebangsawanan yang disebut “tuan” (sebelum masuknya Islam dan Kristen disebut “nasituhanta” atau “tuhanta”), dan karena sang “tuan” berkuasa atas daerah-daerah tertentu maka disebutlah titelnya sesuai dengan daerah kekuasaanya itu. Sehingga terdapatlah yang disebut: “tuan Panei Tongah”, “tuan Simodong”, “tuan Pamatang Panei”, “tuan Baja Linggei”, “tuan Dolog Marawan”, “tuan Dolog Batu Nanggar”, “tuan Sinaman” dan lain-lain. Di tiap daerah otonom ini terdapat sistem pemerintahan yang sama dengan di pamatang (pusat kerajaan) yang boleh disebut duplikasi dari pemerintahan pusat, lengkap dengan aparatur-aparatur dan fungsionarisnya mulai dari “harajaan” (kabinet), kepala daerah setingkat partuanan (untuk keturunan raja sedarah) dan “parbapaan” (keluarga kerajaan bukan sedarah).

Dengan demikian, pada dasarnya sebelum daerah Baja Linggei “dicaplok” Belanda dan dimasukkan ke teritori Kerajaan Deli (Melayu), ia adalah daerah kekuasaan Kerajaan Panei yang pemerintahan eksekutifnya dilaksakan oleh saudara sedarah dari raja-raja Panei dan terbukti sampai “Raja Baja Linggei” terakhir yaitu: Tuan Djariangin Purba Dasuha, masih sering berkunjung ke Pamatang Panei ke istana raja Panei. Dan baik raja Panei maupun saudaranya Tuan Baja Linggei mengambil isteri (puang bolon) adalah dari puteri keluarga besar keturunan Raja Nagur (Nagur Raja, Siantar, Sidamanik dan Bandar) bermarga DAMANIK. Dan puteri Raja Panei, Baja Linggei-Guru Raya menurut adat diwajibkan menjadi permaisuri (puang bolon) di Kerajaan Raya (yang juga mencakup Padang dan Bedagai). Adat ini menjadi ketetapan turun temurun di tengah-tengah masyarakat adat Simalungun, tanpa “puang bolon” seorang raja tidak dapat mewariskan tahtanya kepada putera-puteranya yang dilahirkan isteri-isteri (nasipuang) atau selir maupun gundiknya. Putera mahkkota hanya diwariskan kepada anak laki-laki yang dilahirkan puang bolon, dan jika tidak ada dapat beralih kepada isteri yang lain (puang bona) yang selalu berdarah bangsawan. Dan pada waktu penobatan raja di Panei, Tuan Baja Linggei harus hadir, demikian pula sebaliknya.

 

  1. Asal-usul Terbentuknya Partuanan Baja Linggei

Sekitar tahun 1650 di Kerajaan Panei (berada di Kecamatan Panei

Kabupaten Simalungun sekarang) lebih kurang 7 kilometer dari Pematang Siantar pecah permasalahan di Panei yang tidak dapat terselesaikan secara adat kekeluargaan, sehingga salah satu pihak yang bertikai harus menyingkir dari istana Raja Panei di Pamatang Panei dan menetap di daerah Baja Linggei (Spispis) sekarang. Riwayatnya adalah sebagai berikut sebagaimana dijelaskan oleh orang-orang tua darn penelusuran literatur yang didapat.

Raja Panei yang keenam (1610-1670) mempunyai dua orang isteri yang diwajibkan menurut adat istiadat raja-raja Simalungun. Yang tertua diangkat sebagai puang bolon dan yang muda sebagai puang poso. Adapun keduanya adalah put

Acara adat Kerajaan di Siantar

eri raja Siantar bermarga Damanik. Sebenarnya cerita ini banyak versi, tetapi isinya masih sama yakni sama-sama mengisahkan “hijrahnya” salah satu pihak yang bertikai ke Baja Linggei dan menjadi Tuan Baja Linggei.

Menurut cerita di Panei, kisahnya berawal dari perebutan siapa yang berhak menjadi raja, dan syarat mulaknya adalah harus dapat memperisteri puteri raja Siantar bermarga Damanik untuk dijadikan “puang bolon”. Tetapi salah satu di antaranya tidak berhasil memperisteri sang puteri dan karena malu dengan saudaranya yang lain, yang kalah pergi meninggalkan istana bersama pengiringnya ke daerah Baja Linggei sekarang.

Riwayat di Baja Linggei berlainan dengan apa yang dikisahkan di atas (tetapi menurut penulis, intinya masih tetap sama mungkin bahasanya yang agak diperhalus).

Riwayat di Baja Linggei menceritakan, bahwa Raja Panei mempunyai dua orang putera tetapi lain ibu, isteri tertua melahirkan seorang putera yang diberi nama Tuan Djolgahata Purba Dasuha dan isteri yang lain melahirkan putera juga yang namanya tidak diketahui lagi.

Pada suatu hari, abang-beradik tersebut dilatih bermain senjata api (bodil pamuras) dipersaksikan oleh ayahanda raja Panei, kedua isteri raja, guru harajaon, partuha (pengetua adat) maupun puanglima serta rakyat. Raja ingin mempertontonkan kebolehan puteranya dalam mempersiapkan mereka menjadi raja menggantikannya kelak. Ketika itu usia kedua anak raja itu, yang sulung sekitar 15 tahun dan yang muda sekitar 13 tahun. Biasanya masing-masing senjata tidak diisi peluru, dan keduanya menembak bergantian. Rupa-rupanya, ada muslihat tersembunyi dari salah seorang isteri raja, dia tidak menginginkan putera raja yang dilahirkan isteri raja yang tertua menjadi raja menggantikan ayahnya. Dengan diam-diam dibisikkannya kepada “guru harajaon” agar mengisikan peluru senjata anaknya dengan harapan agar tiba gilirannya, peluru itu dapat menewaskan anak dari isteri tertua. Adapun guru harajaon itu pada awalnya tidak bersedia, tetapi karena desakan isteri raja, maka ia akhirnya patuh.

Nah, tiba giliran anak tertua, tidak terjadi apa-apa, tetapi tiba pada giliran anak yang muda, maka dengan melesat cepat peluru yang dikokangnya meledak mengenai sambahou (ukiran berupa wajah manusia di sudut depan istana dekat pintu masuk) dan nyaris menewaskan Tuan Djolgahata.

Melihat itu, raja murka. Maka Tuan Djolgahata disuruh tangkap dan dihukum karena mengira perbuatan itu adalah tipu muslihatnya. Sang permaisuri membela anaknya, dia tidak sudi anaknya dihukum, maka pecahlah pertengkaran hebat di istana. Raja tetap bersikukuh ingin menghukum Djolgahata, dan dalam keadaan yang genting itu, permaisuri bersedia meninggalkan istana dengan diiringi oleh pejabat istana yang setia kepadanya termasuk seorang panglima (partuha) bermarga Sinaga Daharo yang dengan sigap menyelamatkan Tuan Djolgahata. Maka rombongon pun berangkatlah meninggalkan istana mula-mula ke daerah partuanan Raya (permaisuri di Raya adalah tuan puteri dari Panei). Setiba di Raya, maka rombongan menceritakan perihal kejadian ini, dan karena tuan Raya tidak dapat berbuat apa-apa (mengingat Panei adalah “tondong-nya” yang harus dihormatinya) maka tuan Raya menyarankan mereka pergi ke Kerajaan Siantar (di mana Siantar adalah “tondong” dari Panei). Selama setahun mereka di Siantar, maka mereka meneruskan perjalanannya ke Purba Hinalang (Gunung Monako, Kecamatan Sipispis sekarang). Di situlah mereka membuat perladangan di pinggir sungai pada tanah kekuasaan Raja Dolok Silau bermarga Purba Tambak.

Beberapa lama kemudian, maka mereka berangkat menjumpai TUAN SAMPANG BUAHNI[1] marga Saragih untuk membeli tanah seluas suara terdengar (sappinio) kira-kira seluas empat hektar. Permintaan mereka dikabulkan Tuan Sampang Buah. Permintaan mereka dikabulkan oleh Tuan Sampang Buah, tetapi sebagai penebus tanah tersebut mereka harus menyediakan tujuh ekor kerbau, tujuh orang gadis dan kain adat (hiou) sebanyak apabila tersusun setinggi orang yang duduk ataupun apabila dikembangkan sama luasnya dengan tanah yang akan dibeli tadi. Maka tanah tersebut dibayar oleh Djolgahata dan panglima, maka mereka membuka perkampungan (manoktok huta), tetapi mereka masih menompang (manginsolat) pada tanah Raja Dolog Silau, tanpa mengetahui apa maksud mereka.

Oleh raja Dolog Silau mereka disuruh membuat perkampungan di luar pagar kerajaan (horbangan) di atas tanah yang banyak tumbuh semak sejenis keladi yang dalam bahasa Simalungun disebut “langgei” (tanaman yang berakibat gatal apabila tersentuh tubuh manusia). Adapun penguasa perwakilan raja Dolog Silau pada waktu itu bermukim di Huta Usang sekarang dekat kampung Sampang Buah.

Setelah rumah-rumah selesai didirikan, maka sebagai kebiasaan bahwa kampung itu harus dipagar. Sewaktu mereka membuat lobang tempat tiang pagar (Simalungun: “partoguh”); tiba-tiba mereka menemukan besi “baja” di dalam tanah. Maka untuk menentukan nama kampung itu dimufakati namanya “Baja Langgei” dari kata “baja” dan “langgei”. Mereka merasa nama itu juga tidak tepat, maka ditukar sedikit menjadi Baja Linggei, yang berasal dari kata “baja” dan “linggei”; “baja” artinya: besi baja dan “linggei” artinya: nama yang dimuliakan.

Di kampung Baja Linggei mereka membuat suatu pemerintahan tetapi namanya belum dibuat, Tuan Djolgahata menjadi yang dipertuan pertama. Maka terjadilah dua pemerintahan di dalam satu daerah, karena Baja Linggei masih dalam lingkungan kekuasaan raja Dolog Silau.

Maka atas tipu daya Panglima (yang melarikan Djolgahata dari Panei) lantas Tuan Djolgahata dinobatkan menjadi pengganti wakil Dolog Silou serta Djolgahata pun kawin dengan permaisuri (Bou Damanik dari Nagur Raja) penguasa wakil Dolog Silau. Nama daerah kekuasaan itupun digantikannya menjadi Baja Linggei. Setelah dinobatkannya Tuan Djolgahata, maka mereka menemui Tuan Sampang Buah untuk mengukur tanah yang dibelinya tadi.

Di dalam pengukuran tersebut Tuan Djolgahata dibantu oleh orang bunian (Simalungun: “habonaran”), dengan tanpa disadari dan suara panggilannya pun masih juga dapat didengar, sehingga pemancangan lebih luas lagi daripada yang direncanakan dan bahkan sampai ke Bah Bulian. Karena itulah sehingga Tuan Djolgahata dijuluki Tuan Sappiniou Tanoh Purba Sidasuha, tuan Baja Linggei yang pertama. Daerah kekuasaan Tuan Djolgahata pun semakin luas, bahkan wilayahnya melebihi luas Kecamatan Sipispis sekarang ini. Konon menurut kisahnya, Tuan Sampang Buah Saragih tidak rela akan kekalahanya, maka ia pun gaib dengan menyisakan tanah berawa-rawa di dekat Sipispis. Kabar ini pun disampaikannya kepada ayahnya di Pamatang Panei, dan ayahnya karena menyesali akan kekhilafannya menerimanya kembali di Panei, dan karena daerah Sampang Buahni juga adalah daerah kekuasaannya, maka Raja Panei

menobatkannya menjadi yang dipertuan atas daerah itu. Dan sejak itu hubungan antara Panei dengan Baja Linggei pun kembali baik seperti semula.

Dari perkawinannya dengan Bou Nagur Raja, mereka mendapat satu orang putera dan diberi nama DORMAHATA. Dalam bahasa Simalungun: “dorma” = rejeki; “hata” = kata/suara. Karena dengan pertolongan “sappiniou” (suara yang keras) maka daerah Sampang Buah jatuh seluruhnya ke tangannya. Setelah Dormahata dewasa, maka pertuanan Baja Linggei diserahkan Tuan Djolgahata kepadanya. Dan ia menjadi tuan Baja Linggei II. Pada waktu penobatannya, Tuan Dormahata Purba Dasuha dikawinkan dengan Bou Siantar Damanik puteri raja Siantar yang menjadi “puang bolon”, dari perkawinannya ini, mereka memperoleh tiga orang anak laki-laki yang diberi nama: TUAN BORAHIM, TUAN HERIM dan TUAN LISSEI.

Setelah ketiganya dewasa, maka anak tertua TUAN BORAHIM PURBA DASUHA diangkat menjadi Tuan Baja Linggei III, TUAN HERIM PURBA DASUHA menjadi tuan Bangun Jawa sedangkan TUAN LISSEI PURBA DASUHA menjadi tuan Silau Malela (Naga Buttu sekarang). Tuan Borahim kawin dengan Bou Damanik dari Sidamanik yang menjadi puang bolon dan dua orang lagi masing-masing perempuan bermarga Sinaga Daharo dan satu lagi marga Damanik.

Hasil perkawinannya dengan Bou Damanik dari Sidamanik lahirlah satu orang putra yang diberi nama TUAN DJARIM PURBA DASUHA, sedangkan dari marga Sinaga Daharo satu putera bernama TUAN GAMA, dari marga Damanik juga satu putera diberi nama TUAN LADJOE.

Setelah ketiga anak TUAN BORAHIM dewasa, maka TUAN LADJOE diangkat menjadi Tuan Baja Linggei. Pamatang Baja Linggei (pusat pemerintahan) dipindahkan dari Purba Hinalang (Gunung Monako sekarang) ke SORBA PONUH (lebih kurang 300 meter dari pekan Sipispis sekarang arah ke sungai Padang). Masih ditemukan batu berukir di tempat itu. TUAN GAMA menjadi Tuan Baja Dolog dan Tuan Djarim menjadi Tuan Sibual.

Tuan Baja Linggei Tuan Ladjoe Purba Dasuha mempunyai tiga putera dan diberi nama: TUAN DJONTAHAIM, TUAN DORMAHAJIM dan TUAN MARIADJIM. Tuan DJONTAHAIM menggantikan ayahnya menjadi Tuan Baja Linggei dan diberi nama oleh Sultan Deli TUAN KALAM SETIA (RAJA DI BUKIT). Pada zamannya daerah Baja Linggei telah dimasukkan ke daerah kesultanan Deli dalam daerah kekuasaan Raja Padang marga Saragih Garingging (Dasalak).[1] TUAN DORMAHAJIM didudukkan menjadi Tuan Marjanji dan TUAN MARIAJIM menjadi Tuan Baja Panei (Masangan sekarang).

Besluit pelepasan jabatan Tuan Bajalinggei Tuan Djariangin Purba Sidasuha oleh Belanda yang selanjutnya Daerah Bajalinggei langsung berada dibawah kekuasan sutan Deli via Maharadja Bungsu. Sebelumnya Bajalinggei adalah daerah partuanon Kerajaan Panei di Simalungun

  1. Baja Linggei Masuk Ke Deli: Raja Panei Menghadap Residen Sumatra Timur

Pada tahun 1860 Raja Panei TUAN DJONTAMA PURBA DASUHA dengan diiringi 120 orang rombongan berkuda berangkat ke Medan menghadap Residen Sumatera Timu. Rombongan ada sebanyak 50 orang dari keluarga raja Panei dan 70 orang pejabat istana dan pasukan pengawal dan ANAK BORU PANEI TUAN RONDAHAIM SARAGIH GARINGGING (tuan Raya Namabadjan) berangkat ke Medan. Adapun maksud kedatangannya menghadap Residen Belanda di Medan adalah dalam rangka penentuan perbatasan daerah Kerajaan Panei, Simalungun dengan Kesultanan Deli, Serdang dan Asahan. Belanda yang telah menjadi “sahabat” sultan Deli memberi kekalahan pahit pada Raja Panei. Walau bukti hidup menunjukkan bahwa TUAN BAJA LINGGEI adalah saudara kandung dari Raja Panei turun temurun, namun daerah Baja Linggei Sipispis dimasukkan ke Kesultanan Deli, Bangun Purba sekitarnya ke Kesultanan Serdang, Bah Bura (Babura) masuk ke Deli. Tinjouan, Limapuluh sampai ke Pasir Mandogei masuk ke Kesultanan Asahan. Dua tahun lamanya masalah itu diperjuangkan Raja Panei untuk mengembalikan daerahnya partuana Baja Linggei dan Dolog Marawan kembali ke Panei, tetapi gagal. Pada tahun 1891 Tuan Rondahaim meninggal dunia dan usaha Raja Panei semakin sulit dari segi militer mengembalikan daerah yang dicaplok Belanda itu. Mengenai peristiwa ini Letkol (Purn) Mailan Damti Purba Dasuha dalam bukunya mengatakan:

“Sebagian daerah Kerajaan Panei, yaitu daerah Dolog Batu Nanggar, Dolog Marawan sampai Baja Linggei diserahkan oleh Belanda kepada Raja Padang (daerah vasal Deli). Ini juga untuk memecah Raja Padang dengan Raja Panei. Raja Panei Tuan Djontama Purba Dasuha berangkat ke Medan, untuk menjelaskan dan mempertahankan, bahwa daerah tersebut adalah hak Kerajaan Panei sejak dahulu dan saudara-saudaranya yang memerintah di sana turun-temurun. Tuan Djontama Purba Dasuha ditahan Belanda di Medan sampai meninggal dunia di sana tahun 1902. (Makamnya tidak diketahui oleh keturunannya sampai sekarang). Diduga, jika Tuan Djontama Purba Dasuha kembali ke Panei, akan berontak lagi seperti dahulu bersama Tuan Rondahaim. Untuk Raja Panei diangkat anaknya Tuan Djadiammat Purba Dasuha.”[1]

  1. Baja Linggei Di Zaman Belanda sampai Sekarang

Tuan Bajalinggei IV Tuan DJONTAHAIM PURBA DASUHA mempunyai tiga orang putera yang bernama; TUAN RAMAHAJIM PURBA DASUHA, TUAN RAMAJAHIM PURBA DASUHA dan TUAN UJAH PURBA DASUHA. Menggantikan ayahnya diangkat TUAN RAMAHAJIM. Anak Tuan Ramahajim ada dua orang yaitu: TUAN ARGABULAN PURBA DASUHA dan TUAN DJARIANGIN PURBA DASUHA.

Secara tiba-tiba TUAN RAMAHAJIM meninggal dunia dan disusul anaknya tertua TUAN ARGABULAN, maka kekuasaan pun diserahkan kepada anak bungsu yakni TUAN DJARIANGIN PURBA DASUHA, tetapi karena masih kecil, pemerintahan diserahkan sementara (ipangku) kepada seketurunan yang lain yakni TUAN JAHALAM PURBA DASUHA TUAN SIKAWAK keturunan dari TUAN BAJA DOLOG.

Setelah Tuan Djariangin Purba Dasuha dewasa, maka TUAN DJAHALAM PURBA DASUHA menyerahkan kekuasaan kepada pewaris yang sah. TUAN DJARIANGIN PURBA DASUHA diangkat menjadi Tuan Baja Linggei menggantikan ayahnya. Akan tetapi tidak lama kemudian pada tanggal 14 Mei 1927 Tuan Djariangin Purba Dasuha dilepaskan dari pangkatnya sebagai tuan Baja Linggei oleh Belanda melalui Sultan Deli. Dan pemerintahan Baja Linggei diserahkan kepada Wazir Bungsu orang Deli yang berkedudukan di Padang (Tebing Tinggi). Beliau kawin dengan Bou Nara Damanik puteri tuan Nagur Raja. Dari perkawinannya ini, lahir satu orang anak laki-laki yang diberi nama TUAN DJONTAHARI dan satu orang anak perempuan bernama RAENAH. TUAN DJONTAHARI kawin dengan Raenah boru Damanik dari Nagur Raja dan memiliki empat orang anak yaitu: TUAN BAJALINGGEI PURBA DASUHA, TUAN ANTORA PURBA DASUHA, TUAN ESTER PURBA DASUHA DAN TUAN INDAMORA PURBA DASUHA.

Pada tahun 2004 Kabupaten Deli Serdang sebagai daerah induk Kecamatan Sipispis (Bajalinggei) dimekarkan menjadi dua, yaitu: Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Serdang Bedagai. Kecamatan Sipispis secara administratif masuk Kabupaten Serdang Bedagai. Bupati Sergai pertama hasil pemilihan langsung adalah putera asli Serdang Tengku Erry Nuradi yang oleh tokoh masyarakat adat Baja Linggei sudah ditabalkan menjadi warga Simalungun bermarga Purba Dasuha. Penduduk asli Kecamatan Sipispis (Baja Linggei) adalah suku bangsa Simalungun yang hidup damai berdampingan dengan suku pendatang yang kebanyakan suku Jawa yang bekerja di perkebunan yang banyak terdapat di Kecamatan Sipispis.

Perjuangan tak Pernah Padam, Asal Saja Tujuan Kita BENAR

Surat /Besluit Kerajaan Bajalingei

Berdasarkan sejarah di atas, maka utusan dari pihak ahli waris raja Panei (Tuan Kamen Purba Dasuha), tuan Baja Linggei (T. H. Dahasib Purba Dasuha, T. Sadarita Purba Dasuha, T. Mahyudin Purba Dasuha) dan keturunan Guru Raya Pdt. Juandaha Raya Purba Dasuha telah mengusulkan secara resmi kepada Bupati Serdang Bedagai H. T. Erry Nuradi Purba Dasuha dan DPRD Sergai melalui audiensinya dengan Bupati Sergai di Kantor Bupati Sergai pada tanggal 02 Agustus 2007. Dalam pertemuan yang sangat familiar itu, Bupati Sergai menyambut baik usulan perubahan nama Kec. Sipispis menjadi Kec. Pamatang Baja Linggei, dengan melengkapi persyaratan yang dibutuhkan, seperti seminar dengan menghadirkan tokoh adat, sejarawan dan masyarakat luas. Akan tetapi sampai saat ini, usulan yang sudah direspon dengan sangat baik oleh Bupati tidak berkelanjutan sampai sekarang. Suatu hal yang sangat disesalkan dalam pelestarian situs sejarah suku Simalungun di Sergai dengan dipulihkannya nama kecamatan tersebut.


TUAN BANTALI PURBA DASUHA

Tertarik akan tulisan Pdt. Juandaha Raya Purba Dasuha, STh tentang SEJARAH PARTUANAN BAJA LINGGEI KERAJAAN PANEI DINASTI PURBA DASUHA, via email saya mengirim surat.

Berikut petikan surat elektronik yang saya kirim kepada Pdt. Juandaha Raya Purba Dasuha:

“Horas Pdt. Juandaha Raya Purba Dasuha, STh ,

Sekitar tahun 1988, saya diajak Bapa saya berziarah ke makam Tuan Bantali Purba Dasuha.Dari Tebing Tinggi ke arah Pabatu melalui Naga Kesiangan lalu melewati sungai dengan getek. Kalau tidak salah, menuju Naga Buttu.Dengan berboncengan Sepeda motor kami melalui hutan dan perkebunan (kalau saya tdk salah ingat).Di tempat tujuan, kami menemukan sebuah rumah gubuk yg saat itu ada 2 orang tua renta dan seorang laki laki setengah baya yang agak kurang waras.Dengan berbahasa Simalungun, Bapak saya mohon izin untuk berziarah ke makam Tuan Bantali Purba Dasuha.

Dengan ditemani si Ompung Baru yang tinggal di gubuk tadi, kami memasuki kompleks pemakaman. Pintu masuk kompleks pemakaman tepat persis di depan gubuk nenek tersebut.Sebenarnya, tidaklah pantas disebut kompleks karena lokasi itu hanya dibatasi tanaman pagar sejenis tumbuhan Bintungan.Entah karena belum pernah berkunjung ke tempat itu, saya merasa tempat itu sangat terasa nuansa spiritual.Sama dengan penjelasan Bapa saya, Ompung itu bercerita sembari berjalan menuju makam. Ia mengatakan bahwa Tuan Bantali adalah seorang raja (cuma saat itu si Ompung mengatakan bahwa Tuan Bantali adalah Raja Nagur; bukankah Raja Nagur bermarga Damanik bukan Purba Dasuha ?! )

Sebelum mencapai makam, si Ompung mengatakan bahwa tempat yang kami lalui adalah bekas Rumah Bolon (istana raja), sembari ia menunjuk bekas tiang besar yang masih tampak.Ompung itu mengatakan, bahwa Rumah Bolon ini di runtuhkan “Keling” karena di dasar tiang (ojak) ada tersimpan emas kerajaan.Dilokasi ini sudah sangat menghutan dan akar akar bergantungan serta beberapa ekor kera tampak berkeliaran.Entah saya tersugesti oleh nuansa atau penjelasan Sang Ompung; lalu Ompung itu menunjuk arah kanan, dan mengatakan ada Hulubalang kerajaan sedang melintas, saya memang melihat dua sosok seperti hulubalang membawa sejenis tongkat panjang runcing.

Sesampai di makam Tuan Bantali Purba Dasuha, si Ompung mengatakan bahwa makam Tuan Bantali Purba Dasuha adalah yg ditandai dengan Batu Besar (Batu itu seukuran Bangku Sekolah, mungkin sejenis nisan, Tuan Bantali Purba Dasuha masih beragama nenek moyang, Parhabonaron). Ada juga beberapa makam lain yg tidak ada tanda nisan apapun juga.Di Marubun Kec. Sipispis, ada makam anak perempuan Tuan Bantali Purba Dasuha bernama Panakbou Nunum.Saya sudah beberapa kali ketempat itu. Beberapa bulan lalu saya baru berziarah ke makam Panakbou Nunum. Makam suami Panakbou NunumT Sortia Saragih Garingging, berada di dekat Kampung Muslimin masuk dari Nagaraja. T. Sortia Saragih adalah Penasihat Hukum Kerajaan Raya, yang kemudian oleh Tuan Rondahaim, T. Sortia Saragih diperbantukan juga ke Kerajaan Padang di Bulian Tebing Tinggi. Hingga akhir hayatnya, T Sortia tinggal di tempat yang kini menjadi makamnya yaitu tanah pemberian Tuan Rondahaim yang saat itu diberikan bersama dengan Para Jabolon Halak Sina dan Halak Toba untuk menanam tembakau.

Saya ceritakan ini kepada Pdt. Juandaha Raya Purba Dasuha, karena saya yakin Pdt. Juandaha Raya Purba Dasuha, sangat memahami sejarah Simalungun apalagi tentang Purba dasuha.Atau setidaknya sebagai sekelumit wawasan saja. Secara pribadi, saya sangat berkeinginan mendapat pencerahan dari Pdt. Juandaha Raya Purba Dasuha, STh dan yang lainnya tentang ini. Dan saya berharap agar kejayaan Simalungun Masa Silam bisa tersibak agar kita tidak dianggap sub bahagian dari etnis lain.” (Data : M Muhar Omtatok Saragih)

Berikut jawaban singkat dari Pdt. Juandaha Raya Purba Dasuha, STh:

“Horasma homa.
Anggo mangihutkon silsilah nasiam Garingging, nasiam aima Anakboruni Rumah Bolon Panei do jadi boi hita marlawei. Anggo hun oppung nami namagalop panakboru Marjandi Dolog, boi do nasiam tondong nami. Naima ai atene. Martondong-tondongan ma hita.

Pasal turi-turianmu ai. Diateitupa ma.
mangihutkon sejarahni Raja Panei Purba Dasuha (Tuan Bajalinggei, Panei, Guru Raya), ia harajaon Panei hinan paima roh Belanda abad XIX aima marbatas hun Tigaras das hu Baja Linggei, anjaha paima dong Sultan Deli ampa Sordang sekitar tahun 1780-an, daerahni das do hu topi laut i sekitar Pagurawan nuan. Jadi boi do hasusuran na hun Panei Tuan Bantali ai sapari, halani ongga do raja Panei marporang hu topi laut mangalai Malayu ampa Belanda, ase ibotoh ham Raja Jontama Purba Dasuha matei itakkap Bulanda do anjaha matei ipenjara, das nuan on lang na botoh ija tanomanni. Dong makkatahon i pertapakanni Hotel Garuda nuan. Masa ai tahun 1902. Ase anakni Raja Jadiammat Purba Dasuha magigi tumang mangidah Belanda, ase iusir do Pdt. Nommensen ampa Guilaume hun Panei, aima gigini, anjaha isurahon hinan do pahoppuni aima Raja Bosar Sumalam Purba Dasuha na matei ibunuh BHL i tahun 1946 masuk Islam, halani pangajarini kerani ni halak Minangkabau.

Naima pasal ai. Anggo parkaramatanni Dasuha dong ope aima i Suha Bolag (talunni Tigarunggu nuan — in ma huta asalni) pakon batu pangulgasannni bonangni bou Tambak aima botouni Tuan Suha Bolag Purba Tambak nagabe Dasuha i Dolog Huluan, pakon parkaramatan sinumbah simangalobong i Bah kapul nuan.Anggo i Raya dong do karamat “Pagar Panei Bosi” aima parjanjian bulawan nasiam garingging raja Raya pakon Dasuha na hun bajalinggei aima na gabe Guru Raya. Ase dohor tumang do pardiha-dihaonta.

Tapi halani dob Kristen hanami, lang sai ipaanuanu hanami be ai. Sejarah mando ai.

Horasma”.


[1] Bou adalah gelar puteri bangsawan pada raja-raja Simalungun. Untuk laki-laki disebut “tuhanta” dan sejak masuknya agama Islam dan Kristen beralih menjadi “tuan”.

[2] Lihat uraian Pustaha Bandar Hanopan sebagaimana ditulis kembali oleh Raja Dolog Silau terakhir (1942-1948) Tuan Bandar Alam Purba Tambak, Sejarah Keturunan Silau (Pematang Siantar: Percetakan HKBP, 1967), halaman 10.

[3] Pustaha ini adalah peninggalan dari Raja Silau ayahanda Tuan Suha Bolag yang dibawanya pada pelariannya dari Silau Buttu karena hendak dibunuh abangnya sendiri. Menurut M. D. Purba, pustaha ini telah hangus terbakar bersama rumah Guru Raya Tuan Borahim Purba Dasuha di Pamatang Raya pada aksi agresi Belanda kedua tahun 1947.

[4] Disebut Sampang Buah konon ia adalah seorang sakti, apapun buah-buahan yang diminta akan keluar dari tangannya dan tidak ada yang bisa mengambilnya begitu saja tanpa seizinnya, tetapi suatu ketika ia merasa malu, karena Tuan Sappiniou (Tuan Djolgahata) dapat mengambilnya dari tangannya dengan mudah.

[5] Keturunannya di antaranya adalah Orang Kaya Bustami Saragih Garingging tinggal di Tebing Tinggi.

[6] M. D. Purba, Mengenal Kepribadian Asli Rakyat Simalungun (Medan: t.p. 1977), hlm. 54.


NARA SUMBER :

  1. Tuan Haji Dahasip Purba Dasuha, umur 76 tahun gelar Tuan Sibual tinggal di Sibual Sipispis.
  2. Tuan Bajalinggei Purba Dasuha, umur 38 tahun gelar Tuan Baja Linggei tinggal di Sipispis.
  3. Tuan St. Kamen Purba Dasuha, umur 70 tahun, putera raja Panei Tuan Bosar Sumalam Purba Dasuha (almarhum), tinggal di Pematang Siantar.
  4. Oppung Dading Purba Dasuha, umur 100 tahun, keturunan Guru Raya, tinggal di kampung Huta Dolog Kecamatan Raya Kab. Simalungun.

Dalam silsilah ini Raja Panei adalah asal dari Tuan Bajalinggei yang memerintah Bajalinggei setelah hijrah dari Pamatang Panei (karena konflik keluarga). Dari Bajalinggei, salah seorang saudaranya (abang Tuan Bajalinggei?) mengikuti saudara perempuannya (bou Bajalinggei) yang menjadi Puang Bolon (hoofdvrouw) Tuan Raya sekaligus menyembuhkan panogolan Bajalinggei (putera mahkota Raya) yang sakit keras dan tidak berhasil disembuhkan para tabib yang dipanggil Tuan Raya. Bou Bajalinggei kemudian memohon botounya Tuan Bajalinggei untuk datang ke Raya. Tuan Bajalinggei mengutus sanina (abang?) ke Raya dan berhasil menyembuhkan panogolan Tuan Bajalinggei. Tetapi Tuan Raya memohon belas kasihan tondong untuk tetap tinggal di Pamatang Raya. Sanina Tuan Bajaliinggei ini kemudian menetap di Raya setelah berjanji dengan Raya di Pagar Panei Bosi dan selanjutnya menjadi harajaan (dewan kerajaan) dengan gelar Guru Raya. Peristiwa ini diperkirakan berlangsung sekitar abad XVIII.

Prakata Dari Kami

Blog ini kami dirikan untuk berbagi informasi tentang sejarah Sumatera Utara, sehingga nantinya menjadi blog referensi bagi yang membutuhkan, silakan anda memberi informasi kepada kami, sehingga blog ini benar-benar milik kita, khususnya yang mencintai sejarah dan budaya sumatera Utara.

Akhir kata, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada masyarakat Sumatera Utara, Salam Dari Kami

 

Penulis Blog

Leo

Kantor Bupati samosir

Sumatera Utara adalah sebuah provinsi yang terletak di Pulau SumateraIndonesiaProvinsi ini merupakan wilayah multi-etnis yang dihuni oleh banyak suku bangsa. 

Provinsi Sumatera Utara terletak pada 1° – 4° Lintang Utara dan 98° – 100° Bujur Timur, Luas daratan Provinsi Sumatera Utara 71.680 km².

Sumatra Utara pada dasarnya dapat dibagi atas:

Pesisir timur merupakan wilayah di dalam provinsi yang paling pesat perkembangannya karena persyaratan infrastruktur yang relatif lebih lengkap daripada wilayah lainnya. Wilayah pesisir timur juga merupakan wilayah yang relatif padat konsentrasi penduduknya dibandingkan wilayah lainnya.

Di daerah tengah provinsi berjajar Pegunungan Bukit Barisan. Di pegunungan ini ada beberapa dataran tinggi yang merupakan kantong-kantong konsentrasi penduduk. Tetapi jumlah hunian penduduk paling padat berada di daerah Timur provinsi ini. Daerah di sekitar Danau Toba dan Pulau Samosir juga menjadi tempat tinggal penduduk yang menggantungkan hidupnya kepada danau ini.

Pesisir barat biasa dikenal sebagai daerah Tapanuli.

[sunting]Batas wilayah

Utara Provinsi Aceh dan Selat Malaka
Selatan Provinsi Riau, Provinsi Sumatera Barat, dan Samudera Indonesia
Barat Provinsi Aceh dan Samudera Indonesia
Timur Selat Malaka

Terdapat 419 pulau di propisi Sumatera Utara. Pulau-pulau terluar adalah pulau Simuk (kepulauan Nias), dan pulau Berhala di selat Sumatera (Malaka).

Kepulauan Nias terdiri dari pulau Nias sebagai pulau utama dan pulau-pulau kecil lain di sekitarnya. Kepulauan Nias terletak di lepas pantai pesisir barat di Samudera Hindia. Pusat pemerintahan terletak di Gunung Sitoli.

Kepulauan Batu terdiri dari 51 pulau dengan 4 pulau besar: Sibuasi, Pini, Tanahbala, Tanahmasa. Pusat pemerintahan di Pulautelo di pulau Sibuasi. Kepulauan Batu terletak di tenggara kepulauan Nias.

Pulau-pulau lain di Sumatera Utara: Imanna, Pasu, Bawa, Hamutaia, Batumakalele, Lego, Masa, Bau, Simaleh, Makole, Jake, dan Sigata, Wunga.

Di Sumatera Utara saat ini terdapat dua taman nasional, yakni Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Batang Gadis. Menurut Keputusan Menteri Kehutanan, Nomor 44 Tahun 2005, luas hutan di Sumatera Utara saat ini 3.742.120 hektare (ha). Yang terdiri dari Kawasan Suaka Alam/Kawasan Pelestarian Alam seluas 477.070 ha, Hutan Lindung 1.297.330 ha, Hutan Produksi Terbatas 879.270 ha, Hutan Produksi Tetap 1.035.690 ha dan Hutan Produksi yang dapat dikonversi seluas 52.760 ha.

Namun angka ini sifatnya secara de jure saja. Sebab secara de facto, hutan yang ada tidak seluas itu lagi. Terjadi banyak kerusakan akibat perambahan dan pembalakan liar. Sejauh ini, sudah 206.000 ha lebih hutan di Sumut telah mengalami perubahan fungsi. Telah berubah menjadi lahan perkebunan, transmigrasi. Dari luas tersebut, sebanyak 163.000 ha untuk areal perkebunan dan 42.900 ha untuk areal transmigrasi.

[sunting]Pemerintahan

[sunting]Daftar kabupaten/kota di Sumatera Utara

No. Kabupaten/Kota Ibu kota
1 Kabupaten Asahan Kisaran
2 Kabupaten Batubara Limapuluh
3 Kabupaten Dairi Sidikalang
4 Kabupaten Deli Serdang Lubuk Pakam
5 Kabupaten Humbang Hasundutan Dolok Sanggul
6 Kabupaten Karo Kabanjahe
7 Kabupaten Labuhanbatu Rantau Prapat
8 Kabupaten Labuhanbatu Selatan Kota Pinang
9 Kabupaten Labuhanbatu Utara Aek Kanopan
10 Kabupaten Langkat Stabat
11 Kabupaten Mandailing Natal Panyabungan
12 Kabupaten Nias Gunung Sitoli
13 Kabupaten Nias Barat Lahomi
14 Kabupaten Nias Selatan Teluk Dalam
15 Kabupaten Nias Utara Lotu
16 Kabupaten Padang Lawas Sibuhuan
17 Kabupaten Padang Lawas Utara Gunung Tua
18 Kabupaten Pakpak Bharat Salak
19 Kabupaten Samosir Pangururan
20 Kabupaten Serdang Bedagai Sei Rampah
21 Kabupaten Simalungun Raya
22 Kabupaten Tapanuli Selatan Sipirok
23 Kabupaten Tapanuli Tengah Pandan
24 Kabupaten Tapanuli Utara Tarutung
25 Kabupaten Toba Samosir Balige
26 Kota Binjai Binjai Kota
27 Kota Gunungsitoli -
28 Kota Medan -
29 Kota Padangsidempuan -
30 Kota Pematangsiantar -
31 Kota Sibolga -
32 Kota Tanjungbalai -
33 Kota Tebing Tinggi -

Pusat pemerintahan Sumatera Utara terletak di kota Medan. Sebelumnya, Sumatera Utara termasuk ke dalam Provinsi Sumatra sesaat Indonesia merdeka pada tahun 1945. Tahun 1950. Provinsi Sumatera Utara dibentuk meliputi sebagian Aceh. Tahun 1956, Aceh dipisahkan menjadi Daerah Otonom dari Provinsi Sumatera Utara.

Sumatera Utara dibagi kepada 25 kabupaten, 8 kota (dahulu kotamadya), 325 kecamatan, dan 5.456 kelurahan/desa.

[sunting]Pemekaran daerah

Dengan dimekarkannya kembali Kabupaten Tapanuli Selatan, maka provinsi ini memiliki kabupaten baru, yaitu Kabupaten Padang Lawas yang beribukota di Sibuhuan dengan dasar hukum UURI No. 38/2007 dan Kabupaten Padang Lawas Utara yang beribukota di Gunung Tua dengan dasar hukum UURI No. 37/2007. [3][4]

Pulau Nias diwacanakan akan dimekarkan kembali, yaitu dengan membentuk Kabupaten Nias UtaraKabupaten Nias Barat, dan Kota Gunung Sitoli[5]

[sunting]Daftar gubernur

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar gubernur Sumatera Utara
No. Foto Nama Dari Sampai
1. Sutan Muhammad Amin Nasution 18 Juni 1948 1 Desember 1948
2. Ferdinand Lumbantobing.jpg Ferdinand Lumban Tobing 1 Desember 1948 31 Januari 1950
3. Sarimin Reksodiharjo 14 Agustus 1950 25 Januari 1951
4. Abdul Hakim 25 Januari 1951 23 Oktober 1953
5. Sutan Muhammad Amin Nasution 23 Oktober 1953 12 Maret 1956
6. Sutan Kumala Pontas 18 Maret 1956 1 April 1960
7. Raja Djundjungan Lubis 1 April 1960 5 April 1963
8. Eny Karim 8 April 1963 15 Juli 1963
9. Ulung Sitepu 15 Juli 1963 16 November 1965
10. PR Telaumbanua.jpg PR. Telaumbanua 16 November 1965 31 Maret 1967
11. Marah Halim Harahap 31 Maret 1967 12 Juni 1978
12. Edward Waldemar Pahala Tambunan 12 Juni 1978 13 Juni 1983
13. KAHARUDIN NASUTION copy.jpg Kaharuddin Nasution 13 Juni 1983 13 Juni 1988
14. Raja Inal Siregar.jpg Raja Inal Siregar[6] 13 Juni 1988 15 Juni 1998
15. Rizalnurdin.jpg Tengku Rizal Nurdin[6] 15 Juni 1998 5 September 2005[6]
16. Rudolf pardede.jpg Rudolf Pardede 10 Maret 2006[7] 16 Juni 2008
17. Syamsul Arifin Gubsu.jpg Syamsul Arifin 16 Juni 2008 sekarang

Wakil Gubernur 15 Juni 1998 – 10 Maret 2006 : Rudolf Pardede 16 Juni 2008 – sekarang : Gatot Pudjo Nugroho

Catatan : Gubernur Syamsul Arifin telah dinonaktifkan dan digantikan oleh Gatot Pujonugroho sejak 21 Maret 2011 [8]

[sunting]Perwakilan di Jakarta

[sunting]Anggota DPR-RI dari Provinsi Sumatera Utara

[sunting]Penduduk

Sumatera Utara merupakan provinsi yang keempat terbesar jumlah penduduknya di Indonesia setelah Jawa BaratJawa Timur, dan Jawa Tengah. Menurut hasil pencacahan lengkap Sensus Penduduk (SP) 1990 penduduk Sumatera Utara pada tanggal 31 Oktober 1990 (hari sensus) berjumlah 10,81 juta jiwa, dan pada tahun 2002, jumlah penduduk Sumatera Utara adalah seramai 11,85 juta jiwa. Kepadatan penduduk Sumatera Utara pada tahun 1990 adalah 143 jiwa per km² dan pada tahun 2002 meningkat menjadi 165 jiwa per km², sedangkan kadar peningkatan pertumbuhan penduduk Sumatera Utara selama kurun waktu tahun 1990-2000 adalah 1,20 persen per tahun.

Kadar Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Sumatera Utara setiap tahunnya tidak tetap. Pada tahun 2000 TPAK di daerah ini sebesar 57,34 persen, tahun 2001 naik menjadi 57,70 persen, tahun 2002 naik lagi menjadi 69,45 persen.

[sunting]Sosial kemasyarakatan

[sunting]Suku bangsa

Sumatera Utara merupakan provinsi multietnis dengan BatakNias, dan Melayu sebagai penduduk asli wilayah ini. Daerah pesisir timur Sumatera Utara, pada umumnya dihuni oleh orang-orang Melayu. Pantai barat dari Barus hingga Natal, banyak bermukim orang Minangkabau. Wilayah tengah sekitar Danau Toba, banyak dihuni oleh Suku Batak yang sebagian besarnya beragama KristenSuku Nias berada di kepulauan sebelah barat. Sejak dibukanya perkebunan tembakau di Sumatera Timur, pemerintah kolonial Hindia Belanda banyak mendatangkan kuli kontrak yang dipekerjakan di perkebunan. Pendatang tersebut kebanyakan berasal dari etnis Jawa dan Tionghoa. Pusat penyebaran suku-suku di Sumatra Utara, sebagai berikut :

  1. Suku Melayu Deli : Pesisir Timur, terutama di kabupaten Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Langkat
  2. Suku Batak Karo : Kabupaten Karo
  3. Suku Batak Toba : Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba Samosir
  4. Suku Batak Pesisir : Tapanuli Tengah, Kota Sibolga
  5. Suku Batak Mandailing/Angkola : Kabupaten Tapanuli Selatan, Padang Lawas, dan Mandailing Natal
  6. Suku Batak Simalungun : Kabupaten Simalungun
  7. Suku Batak Pakpak : Kabupaten Dairi dan Pakpak Barat
  8. Suku Nias : Pulau Nias
  9. Suku Minangkabau : Kota Medan, Pesisir barat
  10. Suku Aceh : Kota Medan
  11. Suku Jawa : Pesisir Timur & Barat
  12. Suku Tionghoa : Perkotaan pesisir Timur & Barat.

[sunting]Bahasa

Pada dasarnya, bahasa yang dipergunakan secara luas adalah bahasa Indonesia. Suku Melayu Deli mayoritas menuturkan bahasa Indonesia karena kedekatan bahasa Melayu dengan bahasa Indonesia. Pesisir timur seperi wilayah Serdang Bedagai, Pangkalan Dodek, Batubara, Asahan, dan Tanjung Balai, memakai Bahasa Melayu Dialek “O” begitu juga di Labuhan Batu dengan sedikit perbedaan ragam. Di kabupaten Langkat masih menggunakan bahasa Melayu Dialek “E” yang sering juga disebut bahasa Maya-maya. Masih banyak keturunan Jawa Kontrak (Jadel – Jawa Deli) yang menuturkan bahasa Jawa.

Di kawasan perkotaan, suku Tionghoa lazim menuturkan bahasa Hokkian selain bahasa Indonesia. Di pegunungan, suku Batak menuturkan bahasa Batak yang terbagi atas 4 logat (Silindung-Samosir-Humbang-Toba). Bahasa Nias dituturkan di Kepulauan Nias oleh suku Nias. Sedangkan orang-orang Pesisir Pantai Barat Sumut, seperti Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah serta Aceh Singkil dan Natal Madina menggunakan Bahasa Pesisir.

[sunting]Agama

Agama utama di Sumatra Utara adalah:

  • Islam: terutama dipeluk oleh suku Melayu, Pesisir, Minangkabau,Jawa, Aceh, suku Batak Mandailing, sebagian Batak Karo, Simalungun dan Pakpak
  • Kristen (Protestan dan Katolik): terutama dipeluk oleh suku Batak Karo, Toba, Simalungun, Pakpak, Mandailing dan Nias
  • Hindu: terutama dipeluk oleh suku Tamil di perkotaan
  • Buddha: terutama dipeluk oleh suku Peranakan di perkotaan
  • Konghucu : terutama dipeluk oleh suku Peranakan di perkotaan
  • Parmalim: dipeluk oleh sebagian suku Batak yang berpusat di Huta Tinggi
  • Animisme: masih ada dipeluk oleh suku Batak, yaitu Pelebegu Parhabonaron dan kepercayaan sejenisnya

[sunting]Pendidikan

Pada tahun 2005 jumlah anak yang putus sekolah di Sumut mencapai 1.238.437 orang, sementara jumlah siswa miskin mencapai 8.452.054 orang.

Dari total APBD 2006 yang berjumlah Rp 2.204.084.729.000, untuk pendidikan sebesar Rp 139.744.257.000, termasuk dalam pos ini anggaran untuk bidang kebudayaan.

Jumlah total kelulusan siswa yang ikut Ujian Nasional pada tahun 2005 mencapai 87,65 persen atau 335.342 siswa dari 382.587 siswa tingkat SMP/SMA/SMK sederajat peserta UN . Sedangkan 12,35 persen siswa yang tidak lulus itu berjumlah 47.245 siswa.

[sunting]Kesehatan

  • Secara umum, angka penemuan kasus baru tuberculosis (TBC) di Sumatra Utara mengalami peningkatan. Pada tahun 2005 kasus TBC diperkirakan berkisar 160/100.000 penduduk. Jika jumlah penduduk Sumatra Utara tercatat 12 juta jiwa, maka penderita TBC di daerah ini sebanyak 19.000.
  • Jumlah penderita HIV/AIDS di Sumatera Utara hingga Oktober 2005 tercatat 301 orang, yakni 26 orang asing dan 276 warga negara Indonesia. Sementara jumlah korban yangHIV/AIDS yang meninggal dunia hingga Agustus 2005 berjumlah 34 orang.

[sunting]Tenaga kerja

  • Angkatan Kerja. Pada tahun 2002 angkatan kerja di Sumut mencapai 5.276.102 orang. Jumlah itu naik 4,72% dari tahun sebelumnya. Kondisi angkatan kerja itu juga diikuti dengan naiknya orang yang mencari pekerjaan. Jumlah pencari kerja pada 2002 mencapai 355.467 orang. Mengalami kenaikan 57,82% dari tahun sebelumnya.
  • Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Jumlah TPT di Sumut naik dari 4,47% pada 2001 menjadi 6,74% pada 2002. TPT tertinggi terjadi di Kota Medan mencapai 13,28%, diikuti Kota Sibolga (11,71%), Kabupaten Langkat (11,06%), dan Kodya Tebing Tinggi (10,91%).
  • Angkatan Kerja. Penduduk yang tergolong angkatan kerja berjumlah 5,1 juta jiwa. Sekitar 34% berstatus sebagai majikan, bekerja sendiri (20%), dan pekerja keluarga (23%). Skala usaha tergambar pada komposisi yang didominasi oleh usaha kecil sekitar 99,8% dan hanya sekitar 0,2% yang tergolong usaha besar.
  • Pendidikan Pekerja. Tingkat pendidikan sebagian besar tenaga kerja. Pekerja yang berpendidikan tidak tamat sekolah dasar (SD) atau sampai tamat SD mencapai 48,96%. Lulusan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) mencapai 23%. Sedangkan lulusan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) mencapai 24,08%. Sementara itu, lulusan perguruan tinggi hanya 3,95%.

[sunting]Perekonomian

[sunting]Energi

Sumatera Utara kaya akan sumber daya alam berupa gas alam di daerah TandamBinjai dan minyak bumi di Pangkalan BrandanKabupaten Langkat yang telah dieksplorasi sejak zaman Hindia Belanda.

Selain itu di Kuala TanjungKabupaten Asahan juga terdapat PT Inalum yang bergerak di bidang penambangan bijih dan peleburan aluminium yang merupakan satu-satunya di Asia Tenggara.

Sungai-sungai yang berhulu di pegunungan sekitar Danau Toba juga merupakan sumber daya alam yang cukup berpotensi untuk dieksploitasi menjadi sumber daya pembangkit listrik tenaga air. PLTA Asahan yang merupakan PLTA terbesar di Sumatra terdapat di Kabupaten Toba Samosir.

Selain itu, di kawasan pegunungan terdapat banyak sekali titik-titik panas geotermal yang sangat berpotensi dikembangkan sebagai sumber energi panas maupun uap yang selanjutnya dapat ditransformasikan menjadi energi listrik.

[sunting]Pertanian dan perkebunan

Provinsi ini tersohor karena luas perkebunannya, hingga kini, perkebunan tetap menjadi primadona perekonomian provinsi. Perkebunan tersebut dikelola oleh perusahaan swasta maupun negara. BUMN Perkebunan yang arealnya terdapat di Sumatera Utara, antara lain PT Perkebunan Nusantara II (PTPN II), PTPN III dan PTPN IV.

Selain itu Sumatera Utara juga tersohor karena luas perkebunannya. Hingga kini, perkebunan tetap menjadi primadona perekonomian provinsi. Perkebunan tersebut dikelola oleh perusahaan swasta maupun negara. Sumatera Utara menghasilkan karet, coklat, teh, kelapa sawit, kopi, cengkeh, kelapa, kayu manis, dan tembakau. Perkebunan tersebut tersebar diDeli SerdangLangkatSimalungunAsahanLabuhanbatu, dan Tapanuli Selatan.

  • Luas pertanian padi. Pada tahun 2005 luas areal panen tinggal 807.302 hektare, atau turun sekitar 16.906 hektare dibanding luas tahun 2004 yang mencapai 824.208 hektare. Produktivitas tanaman padi tahun 2005 sudah bisa ditingkatkan menjadi berkisar 43,49 kwintal perhektar dari tahun 2004 yang masih 43,13 kwintal per hektare, dan tanaman padi ladang menjadi 26,26 kwintal dari 24,73 kwintal per hektare. Tahun 2005, surplus beras di Sumatera Utara mencapai 429 ton dari sekitar 2.1.27 juta ton total produksi beras di daerah ini.
  • Luas perkebunan karet. Tahun 2002 luas areal tanaman karet di Sumut 489.491 hektare dengan produksi 443.743 ton. Sementara tahun 2005, luas areal karet menurun atau tinggal 477.000 hektare dengan produksi yang juga anjlok menjadi hanya 392.000 ton.
  • Irigasi. Luas irigasi teknis seluruhnya di Sumatera Utara seluas 132.254 ha meliputi 174 Daerah Irigasi. Sebanyak 96.823 ha pada 7 Daerah Irigasi mengalami kerusakan sangat kritis.
  • Produk Pertanian. Sumatra Utara menghasilkan karet, cokelat, teh, kelapa sawit, kopi, cengkeh, kelapa, kayu manis, dan tembakau. Perkebunan tersebut tersebar di Deli Serdang,LangkatSimalungunAsahanLabuhanbatu, dan Tapanuli Selatan.

Komoditas tersebut telah diekspor ke berbagai negara dan memberikan sumbangan devisa yang sangat besar bagi Indonesia. Selain komoditas perkebunan, Sumatra Utara juga dikenal sebagai penghasil komoditas holtikultura (sayur-mayur dan buah-buahan); misalnya Jeruk Medan, Jambu Deli, Sayur Kol, Tomat, Kentang, dan Wortel yang dihasilkan oleh Kabupaten Karo, Simalungun dan Tapanuli Utara. Produk holtikultura tersebut telah diekspor ke Malaysia dan Singapura.

[sunting]Perbankan

Selain bank umum nasional, bank pemerintah serta bank internasional, saat ini di Sumut terdapat 61 unit Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan 7 Bank Perkreditan Rakyat Syariaf (BPRS) di Sumatera Utara. Data dari Bank Indonesia menunjukkan, Pada Januari 2006, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang diserap BPR mencapai Rp 253.366.627.000 dan kredit mencapai Rp 260.152.445.000. Sedangkan aktiva (aset) menapai Rp 340.880.837.000.

[sunting]Sarana dan prasarana

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatra Utara juga sudah membangun berbagai prasarana dan infrastruktur untuk memperlancar perdagangan baik antarkabupaten maupun antarprovinsi. Sektor swasta juga terlibat dengan mendirikan berbagai properti untuk perdagangan, perkantoran, hotel dan lain-lain. Tentu saja sektor lain, seperti koperasi, pertambangan dan energi, industri, pariwisata, pos dan telekomunikasi, transmigrasi, dan sektor sosial kemasyarakatan juga ikut dikembangkan. Untuk memudahkan koordinasi pembangunan, maka Sumatra Utara dibagi ke dalam empat wilayah pembangunan.

[sunting]Pertambangan

Ada tiga perusahaan tambang terkemuka di Sumatra Utara:

[sunting]Transportasi

Di Sumatera Utara terdapat 2.098,05 kilometer jalan negara, yang tergolong mantap hanya 1.095,70 kilometer atau 52,22 persen dan 418,60 kilometer atau 19,95 persen dalam keadaan sedang, selebihnya dalam keadaan rusak. Sementara dari 2.752,41 kilometer jalan propinsi, yang dalam keadaan mantap panjangnya 1.237,60 kilometer atau 44,96 persen, sementara yang dalam keadaan sedang 558,46 kilometer atau 20,29 persen. Halnya jalan rusak panjangnya 410,40 kilometer atau 14,91 persen dan yang rusak berat panjangnya 545,95 kilometer atau 19,84 persen.

Dari sisi kendaraan, terdapat lebih 1,38 juta kendaraan roda dua dan empat di Sumatera Utara. Dari jumlah itu, sebanyak 873 ribu lebih berada di Kota Medan.

[sunting]Ekspor & impor

Kinerja ekspor Sumatera Utara cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2004 tercatat perolehan devisa mencapai US$4,24 milyar atau naik 57,72% dari tahun sebelumnya dari sektor ini.

Ekspor kopi dari Sumatera Utara mencapai rekor tertinggi 46.290 ton dengan negara tujuan ekspor utama Jepang selama lima tahun terakhir. Ekspor kopi Sumut juga tercatat sebagai 10 besar produk ekspor tertinggi dengan nilai US$3,25 juta atau 47.200,8 ton periode Januari hingga Oktober 2005.

Dari sektor garmen, ekspor garmen cenderung turun pada Januari 2006. Hasil industri khusus pakaian jadi turun 42,59 persen dari US$ 1.066.124 pada tahun 2005, menjadi US$ 2.053 pada tahun 2006 pada bulan yang sama.

Kinerja ekspor impor beberapa hasil industri menunjukkan penurunan. Yakni furniture turun 22,83 persen dari US$ 558.363 (2005) menjadi US$ 202.630 (2006), plywood turun 24,07 persen dari US$ 19.771 menjadi US$ 8.237, misteric acid turun 27,89 persen yakni dari US$ 115.362 menjadi US$ 291.201, stearic acid turun 27,04 persen dari US$ 792.910 menjadi US$ 308.020, dan sabun noodles turun 26 persen dari AS.689.025 menjadi US$ 248.053.

Kinerja ekspor impor hasil pertanian juga mengalami penurunan yakni minyak atsiri turun 18 persen dari US$ 162.234 menjadi US$ 773.023, hasil laut/udang, minyak kelapa dan kopi robusta juga mengalami penurunan cukup drastis hingga mencapai 97 persen. Beberapa komoditi yang mengalami kenaikan (nilai di atas US$ Juta) adalah biji kakao, hortikultura, kopi arabica, CPO, karet alam, hasil laut (non udang). Untuk hasil industri yakni moulding, ban kendaraan dan sarung tangan karet.

[sunting]APBD

Dari tahun ke tahun, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah(APBD) Sumatera Utara terus meningkat.

Tahun Besaran APBD
2004 Rp 1.440.238.069.000,00
2005 Rp 1.645.876.354.000,00
2006 Rp 2.204.084.729.000,00
APBD 2006 memberikan alokasi Belanja publik Rp 1.577.946.416.580 (71,59%), sedangkan belanja aparatur Rp 626.138.312.420 (28,41%). Pos anggarannya antara lain:

Bidang Nilai
Pertanian Rp 54.544.588.580,00
Kesehatan Rp 131.338.927.000,00
Pendidikan dan Kebudayaan Rp 139.744.257.000,00

Pada tahun 2006 ditargetkan Rp2,087 triliun. Angka tersebut diperoleh dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) Rp1,354 triliun, dana perimbangan Rp723,65 miliar, dan Lain-lain. Pendapatan yang sah sebesar Rp23,915 miliar. Khusus sektor PAD terdiri dari pajak daerah Rp 1,270 triliun, retribusi daerah Rp 10,431 miliar, laba BUMD sebesar Rp 48,075 miliar, dan lain-lain pendapatan Rp 25,963 miliar. Perolehan dari dana perimbangan meliputi Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak sebesar Rp 183,935 miliar dan Dana Alokasi Umum Rp 539,718 miliar. Sedangkan perolehan dari Lain-lain Pendapatan yang Sah diperoleh dari Iuran Jasa Air Rp 8,917 miliar.

[sunting]Seni dan budaya

[sunting]Musik

Musik yang biasa dimainkan,cenderung tergantung dengan upacara-upacara adat yang diadakan, tetapi lebih dominan dengan genderangnya. Seperti pada Etnis Pesisir terdapat serangkaian alat musik yang dinamakan Sikambang.

[sunting]Arsitektur

Dalam bidang seni rupa yang menonjol adalah arsitektur rumah adat yang merupakan perpaduan dari hasil seni pahat dan seni ukir serta hasil seni kerajinan. Arsitektur rumah adat terdapat dalam berbagai bentuk ornamen.Pada umumnya bentuk bangunan rumah adat pada kelompok adat batak melambangkan “kerbau berdiri tegak”. Hal ini lebih jelas lagi dengan menghias pucuk atap dengan kepala kerbau.

Rumah adat suku bangsa Batak bernama Ruma Batak. Berdiri kokoh dan megah dan masih banyak ditemui di Samosir.

Rumah adat Karo kelihatan besar dan lebih tinggi dibandingkan dengan rumah adat lainnya. Atapnya terbuat dari ijuk dan biasanya ditambah dengan atap-atap yang lebih kecil berbentuk segitiga yang disebut “ayo-ayo rumah” dan “tersek”. Dengan atap menjulang berlapis-lapis itu rumah Karo memiliki bentuk khas dibanding dengan rumah tradisional lainnya yang hanya memiliki satu lapis atap di Sumatera Utara.

Bentuk rumah adat di daerah Simalungun cukup memikat. Kompleks rumah adat di desa Pematang Purba terdiri dari beberapa bangunan yaitu rumah bolon,balai bolon,jemur,pantangan balai butuh dan lesung.

Bangunan khas Mandailing yang menonjol adalah yang disebut “Bagas Gadang” (rumah Namora Natoras) dan “Sopo Godang” (balai musyawarah adat).

Rumah adat Pesisir Sibolga kelihatan lebih megah dan lebih indah dibandingkan dengan rumah adat lainnya. Rumah adat ini masih berdiri kokoh di halaman Gedung Nasional Sibolga.

[sunting]Tarian

Perbendaharaan seni tari tradisional meliputi berbagai jenis. Ada yang bersifat magis, berupa tarian sakral, dan ada yang bersifat hiburan saja yang berupa tari profan. Di samping tari adat yang merupakan bagian dari upacara adat, tari sakral biasanya ditarikan oleh dayu-datu. Termasuk jenis tari ini adalah tari guru dan tari tungkat. Datu menarikannya sambil mengayunkan tongkat sakti yang disebut Tunggal Panaluan.

Tari profan biasanya ialah tari pergaulan muda-mudi yang ditarikan pada pesta gembira. Tortor ada yang ditarikan saat acara perkawinan. Biasanya ditarikan oleh para hadirin termasuk pengantin dan juga para muda-mudi. Tari muda-mudi ini, misalnya morah-morah, parakut, sipajok, patam-patam sering dan kebangkiung. Tari magis misalnya tari tortor nasiaran, tortor tunggal panaluan. Tarian magis ini biasanya dilakukan dengan penuh kekhusukan.

Selain tarian Batak terdapat pula tarian Melayu seperti Serampang XII.

[sunting]Kerajinan

Selain arsitektur,tenunan merupakan seni kerajinan yang menarik dari suku Batak. Contoh tenunan ini adalah kain ulos dan kain songket. Ulos merupakan kain adat Batak yang digunakan dalam upacara-upacara perkawinan, kematian, mendirikan rumah, kesenian,dsb. Bahan kain ulos terbuat dari benang kapas atau rami. Warna ulos biasanya adalah hitam, putih, dan merah yang mempunyai makna tertentu. Sedangkan warna lain merupakan lambang dari variasi kehidupan.

Pada suku Pakpak ada tenunan yang dikenal dengan nama oles. Bisanya warna dasar oles adalah hitam kecokelatan atau putih.

Pada suku Karo ada tenunan yang dikenal dengan nama uis. Bisanya warna dasar uis adalah biru tua dan kemerahan.

Pada suku Pesisir ada tenunan yang dikenal dengan nama Songket Barus. Biasanya warna dasar kerajinan ini adalah Merah Tua atau Kuning Emas.

[sunting]Makanan khas

Makanan Khas di Sumatera Utara sangat bervariasi, tergantung dari daerah tersebut. Saksang dan Babi panggang sangat familiar untuk mereka yang melaksanakan pesta maupun masakan rumah.

Misalkan seperti didaerah Pakpak Dairi, Pelleng adalah makanan khas dengan bumbu yang sangat pedas.

Di tanah Batak sendiri adalah dengke naniarsik yang merupakan ikan yang digulai tanpa menggunakan kelapa. Untuk cita rasa, tanah Batak adalah surga bagi pecinta makanan santan dan pedas juga panas. PASITUAK NATONGGI atau uang beli nira yang manis adalah istilah yang sangat akrab disana, menggambarkan betapa dekatnya Tuak atau nira dengan kehidupan mereka.sumber wikipedia

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.